Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

March 01, 2016

Summary February

These fates never seem by my side
Even I try to keep going straight
It was always ended by lost around its wild
And again, I just being dumb hoping everything going right

I barely ever stop asking as a foolish cad
Why should it be so sad?
Why is there something called mad?
Why do I lose of thankfulness for anything I've ever had?

Image result for abstract art
But in the end, my dearest God....

February 15, 2016

Belum Ma(mp)u

 
Akhir-akhir ini langit seringkali tampak cantik. Kalau ada yang bilang menatap langit seperti menatap cermin, aku kurang setuju. Pasalnya, segelap apapun awan di langit, tetap saja tampak menarik. Sementara menatap cermin (?) --- bahkan ketika aku mati-matian melukis paras tetap saja terlihat , emm apa ya?! Eh, kok gak bersyukur.
 
Akhir-akhir ini juga, ada perasaan aneh terselip disetiap lamunanku. Seperti bait-bait sajak penuh metafora. Sulit kuartikan perkata. Sulit kuceritakan pada siapapun termasuk kamu, yang jelas kata pertama sepertinya berarti "aku terlalu takut" ---kehilanganmu.
 
 
Aku mulai faham langkahku sedikit salah arah, mungkin benar-benar salah. Terlebih setelah melihat banyak teman-temanmu berubah begitu baik, ke arah-Nya. Tapi sungguh, muskil sekali berbalik, atau menuju arah yang tepat. Sekali lagi, aku takut. 
 
 
Aku terlalu takut untuk memulai membiasakan hal-hal yang benar. Maksudku, yang seharusnya. Mungkin karena aku terlalu "mem-benarkan" kebiasaan. Atau mungkin aku takut memulainya sendirian. Emmm, jadi.... maksudku.... maukah kamu...?

February 11, 2016

Summary January

 
 
Kala itu, dari sini, akhir januari tampak lembab. Aku terjembab di ujung kalimat :
 
"Bahagiamu mahal sekali, sampai langit harus menangis."
 
Image result for hujan
 
Aku sempat berkerut kening, hingga :
 
Bahkan jika benar-benar mahal, bukankah bahagia itu sederhana?
 
Sederhana, sesuai selera.
 
Lantas, boleh aku berbisik : mungkin seleraku memang mahal?!

October 12, 2015

R.A.S.U.K


Dear 'Teh Risa', saya izin re-type sedikit karya-mu.
I don't even know, kenapa suka banget sama prolog ini...
I do feel every phrases, bahkan mungkin tiap syllable-nya.

Prolog

Dari sekian banyak garis hidup manusia yang Kau gambarkan, mengapa harus garis hidupku yang Kau buat berliku? Mengapa tak Kau buat lurus saja? Mungkin tanganMu tak akan terlalu pegal jika dibandingkan harus membuat garis-garis itu jadi sembarang.

Hidupku begitu semrawut! Aku kerapkali mengutuknya. Kau pasti bosan mendengar hatiku menjerit mencakar setiap relung dalam benak. Mereka bilang Kau pasti mendengarnya. Betul begitu?

September 20, 2015

a.k.s.i.o.m.a

Entah untuk keberapa kalinya...

Duduk sendiri di sisi kiri kursi bis yang sepi. Menerawang seperti mencari sesuatu yang tak pernah Tuhan ciptakan. Menatap kerlip lampu jalanan, bahkan sesekali menangkap sosok yang mungkin hanya ilusi-ku---tapi bukan tak mungkin ia benar-benar ada. Yang ada tak mesti kasat mata, kan? Seperti... pernahkah kau dapati O2 dalam entitas yang nyata?

Tanpa ragu aku membiarkan ia berlarian di labirin imajinasiku. Menuntunnya masuk ke dalam otakku yang tak lelah menyusuri tiap jengkal kenangan. Ah iya, apa hari kemarin sudah termasuk kenangan? Apapun itu, sesuatu yang menyenangkan selalu kusimpan.

Terlebih kemarin malam. Diam-diam mataku tak henti mencuri arti gelagat mereka, berusaha membaca keadaan, tapi tetap larut dalam gelak tawa yang sudah sejak lama tak kudengar. Dengan sedikit terbata, hatiku menerka-nerka “Sebenarnya siapa mereka?”.


*****

Rachel...

November 18, 2012

Obituary


Dulu aku lihat dari surga sosok pria cukup tampan sedang berbincang dengan gadis manis. Aku fikir mereka sepasang insan yang berusaha menjadi 'Adam dan Hawa'. Tapi semakin daun telingaku melebar, aku dengar kalimat 'tolong sampaikan ini padanya' dan 'baiklah, semoga kalian cepat menikah'.
Hmm, rupanya aku salah telak. Gadis itu bukan 'hawa' nya.
Aku tidak tertarik untuk memerhatikan mereka lagi.
Masih dulu.
Aku masih di nirwana juga. Mataku dimanjakan oleh ratusan pasang mata yang memberi selamat kepada sepasang senyum. Aku ikut tersenyum, padahal aku tak mengenal si empunya senyum itu. Aku hanya pernah melihat mereka. Iya, mereka itu yang dulu aku dengar perbincangannya. Entah mengapa, aku ingin mereka bahagia.




June 30, 2012

Aku, Dara Tak Bersayap


Malam ini kelam.
Aku menyeret langkah, menghela nafas, menjamah buku usang yang biasa menjadi pengaduan. Detak dan detik terdengar tak seirama, memilih ritme sesuai kehendak mereka. Tak ada denting yang lain.
Malam ini sunyi.
Halusinasi mulai bermain, berlarian tak beraturan. Imajinasi mulai berkeliaran, bayang-bayang bergantian sampai pada satu siluet yang begitu menawan, bukan tampan tapi rupawan.


Seperti sirkus yang dihentikan, fikiranku terpaku. Terdiam. Sungguh aku tak hendak mengingatnya malam ini. Tapi malam memang ruang penuh bintang yang menawarkan ketenangan hingga aku merasa aman, nyaman dan terpancing memutar perjalanan.

Perjalanan? Apa pula yang sudah ku jalani?


June 28, 2012

Dari Ungu untuk Biru tanpa Kelabu


Setiap episode yang tuhan tentukan pasti memiliki makna, jika tidak sekarang mungkin esok, lusa atau nanti pasti kau temui makna dibalik kehendaknya.
Begitulah kehidupan.
Memang sudah dirancang, tinggal bagaimana kita membangunnya, menghiasnya hingga menikmati hasilnya.

Teori itu benar-benar nyata, bukan sekedar fatamorgana.
Sekarang, apa kau mengerti?


June 09, 2012

Di Balik Bilik Perbedaan

Senja
Lembayung tipis
Sepi bersuara
Waktu dimana siang membiarkan mentari kembali ke peraduan
Hujan
Gemercik berirama
Dingin yang hangat
Waktu dimana langit membiarkan laut berbagi kepada bumi
Mereka berbeda
Yang satu begitu teratur dan yang satunya tak tentu
Lantas tuhan membencinya?
Tidak, kan?