Showing posts with label ayah. Show all posts
Showing posts with label ayah. Show all posts

February 15, 2016

Belum Ma(mp)u

 
Akhir-akhir ini langit seringkali tampak cantik. Kalau ada yang bilang menatap langit seperti menatap cermin, aku kurang setuju. Pasalnya, segelap apapun awan di langit, tetap saja tampak menarik. Sementara menatap cermin (?) --- bahkan ketika aku mati-matian melukis paras tetap saja terlihat , emm apa ya?! Eh, kok gak bersyukur.
 
Akhir-akhir ini juga, ada perasaan aneh terselip disetiap lamunanku. Seperti bait-bait sajak penuh metafora. Sulit kuartikan perkata. Sulit kuceritakan pada siapapun termasuk kamu, yang jelas kata pertama sepertinya berarti "aku terlalu takut" ---kehilanganmu.
 
 
Aku mulai faham langkahku sedikit salah arah, mungkin benar-benar salah. Terlebih setelah melihat banyak teman-temanmu berubah begitu baik, ke arah-Nya. Tapi sungguh, muskil sekali berbalik, atau menuju arah yang tepat. Sekali lagi, aku takut. 
 
 
Aku terlalu takut untuk memulai membiasakan hal-hal yang benar. Maksudku, yang seharusnya. Mungkin karena aku terlalu "mem-benarkan" kebiasaan. Atau mungkin aku takut memulainya sendirian. Emmm, jadi.... maksudku.... maukah kamu...?

November 18, 2012

Obituary


Dulu aku lihat dari surga sosok pria cukup tampan sedang berbincang dengan gadis manis. Aku fikir mereka sepasang insan yang berusaha menjadi 'Adam dan Hawa'. Tapi semakin daun telingaku melebar, aku dengar kalimat 'tolong sampaikan ini padanya' dan 'baiklah, semoga kalian cepat menikah'.
Hmm, rupanya aku salah telak. Gadis itu bukan 'hawa' nya.
Aku tidak tertarik untuk memerhatikan mereka lagi.
Masih dulu.
Aku masih di nirwana juga. Mataku dimanjakan oleh ratusan pasang mata yang memberi selamat kepada sepasang senyum. Aku ikut tersenyum, padahal aku tak mengenal si empunya senyum itu. Aku hanya pernah melihat mereka. Iya, mereka itu yang dulu aku dengar perbincangannya. Entah mengapa, aku ingin mereka bahagia.




June 30, 2012

Aku, Dara Tak Bersayap


Malam ini kelam.
Aku menyeret langkah, menghela nafas, menjamah buku usang yang biasa menjadi pengaduan. Detak dan detik terdengar tak seirama, memilih ritme sesuai kehendak mereka. Tak ada denting yang lain.
Malam ini sunyi.
Halusinasi mulai bermain, berlarian tak beraturan. Imajinasi mulai berkeliaran, bayang-bayang bergantian sampai pada satu siluet yang begitu menawan, bukan tampan tapi rupawan.


Seperti sirkus yang dihentikan, fikiranku terpaku. Terdiam. Sungguh aku tak hendak mengingatnya malam ini. Tapi malam memang ruang penuh bintang yang menawarkan ketenangan hingga aku merasa aman, nyaman dan terpancing memutar perjalanan.

Perjalanan? Apa pula yang sudah ku jalani?