*di waktu indonesia bagian kamarku, kenangan-kenangan itu seperti mozaik tak beraturan.*
Gelombang udara tak sengaja membiarkan matamu menusuk kedalam retinaku.
Lalu otakku terlalu naif untuk segera memberikan perintah : "berkedip!"
Seperti ada ratusan kupu-kupu liar mengepakkan sayap di perutku, aku mual berlama-lama dalam situasi seperti itu.
-tapi diam-diam aku mengagumi teduh matamu-
Lalu otakku terlalu naif untuk segera memberikan perintah : "berkedip!"
Seperti ada ratusan kupu-kupu liar mengepakkan sayap di perutku, aku mual berlama-lama dalam situasi seperti itu.
-tapi diam-diam aku mengagumi teduh matamu-
Adapula saat jemarimu memiliki energi potensial yang cukup tinggi untuk jatuh tak jauh dari lenganku, atau bahkan tepat diatasnya.
Saat itu terjadi, seperti ada energi panas mengalir dari ujung rambut hingga ujung kakiku, rasanya menggelikan, seperti tersengat listrik bertegangan sangat rendah.
-tapi diam-diam aku menikmati lembut jemarimu-
Saat itu terjadi, seperti ada energi panas mengalir dari ujung rambut hingga ujung kakiku, rasanya menggelikan, seperti tersengat listrik bertegangan sangat rendah.
-tapi diam-diam aku menikmati lembut jemarimu-
Itu hanya beberapa kasus yang sering terjadi pada syaraf-syaraf motorik di tubuhku,
